Minggu, 30 Desember 2007

Selamat Tahun Baru 2008


Sesungguhnya hitungan nafas telah ditetapkan, hitungan detik telah diperhitungkan.
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi modal tapi tidak digunakannya,
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi nafas tapi disia siakannya,
sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi waktu tapi disia siakannya,

Demi Allah, sesungguhnya semakin dekat ujung kehidupan kita,
Hisab semakin nyata, dan sesungguhnya Hisab Allah amatlah berat,
Saudaraku, Janganlah sia siakan nafas kita, jangan sia siakan waktu kita,
Sesungguhnya Hanya Allahlah tujuan kita...

Perjalanan hidup manusia, menempuh alam dunia
menghabiskan waktu, yang tiada lama

Usia bertambah makin senja, tiada terasa tak tersadar
Semakin dekatlah kematian, akan menjelang tiba

Sadarilah, usia amanah dari Ilahi
Sadarilah, ia pasti kan dimintai
Pertanggung jawabannya pada Ilahi
Sadarilah, jalani hidup ini penuh makna
Sadarilah, pastikan ia berarti diakhirat yang abadi.

*********

DOA AKHIR TAHUN....

Bismillaahirrahmaanirraahiim, wa shollalloohu'alaa sayyididinaa muhammaadin wa'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama, Alloohumma maa'amiltu fii hadzihis sanati mimmaa nahaitanii'anhu falam atub minhu wa lam tardhohu wa lam tansahu wa hamiltu 'alayya ba'da qudrotika 'uquubati wa da'autanii ilattaubati minhu ba'da jiroo-atii 'alaa ma'shiyatika fa-innii astaghfiruka faghfirlii bifadhlika wa maa'amiltuhu fiiha mimma tardhoohu wa wa'adtanii 'alaihits tsawaba wa as-aluka. Alloohumma yaa kariimu yaadzal jalaali wal ikroomi antaqobbalahu minnii walaa taqtho' rojaa-i minka yaa kiriimu wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama.

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau. Wahai Tuhanku, apa yang hamba perbuat sepanjang tahun ini berupa perbuatan perbuatan yang Paduka larang hamba melakukannya, sedangka hamba belum bertaubat dari padanya dan Paduka tidak meridhainya dan tidak melupakannya, dan Padukapun telah menyayangi hamba setelah Padukapun kuasa untuk menyiksa hamba, kemudian Paduka menyeru hamba untuk bertaubat setelah hamba bermaksiat kepada Paduka. Karena itu, hamba mohon ampunan dari Paduka, maka ampunilah hamba dengan Anugerah-Mu.
Dan apa yang telah hamba kerjakan ditahun ini adalah berupa perbuatan yang Paduka ridhai dan Paduka janjikan pahala atasnya, Hamba mohon pada-Mu wahai Tuhanku, Dzat Yang Maha Mulia, yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, agar Paduka terima amalan hamba dan jangan hendaknya Paduka putuskan harapan hamba dari-Mu, wahai Dzat Yang Maha Mulia. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau."

*********

DO'A AWAL TAHUN....

Bismillaahirohmaanirrohiim. wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama. Allohumma antal abadiyyul qodiimul awwalu wa 'alaa fadhlikal 'adliimi wujuudikal mu'awwali wahaadza'aamunjadiidun qod aqbala nas-alukal 'ishmata fiihi minasysyaithooni wa auli yaa-ihi wa junuudihi wal 'auni 'alaa haadzihil ammaaroti bissuu-i wal istighooli bimaa yuqorribunii ilaika zulfa yaa dzal jallali wal ikroom. wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama.

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau.
Wahai Tuhanku, Paduka adalah Dzat Yang Maha Kekal, dahulu dan Awal. Hanya denga anugrah dan kemurahan-Mu yang agung, telah datang tahun baru. Di tahun ini kami memohon pemeliharaan-Mu dari Syetan, kekasihnya dan balatentaranya, dan kami memohon pertolongan-Mu atas hawa nafsu yang mengajak kepada kejelekan, dan kami memohon kesibukan dengan perbuatan yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau."

Amiin ya robbal 'alamiin...

Wallohua'laam bishshowab...


Sabtu, 29 Desember 2007

Indahnya Namamu...

Nama…

Nama adalah tanda pembeda, tanda yang punya arti, tanda yang punya tujuan, tanda yang menyimpan kekuatan, tanda yang menyimpan harapan, tanda untuk mengukir sejarah, tanda yang bisa dikenang, tanda untuk saling mengenal dan mengasihi, dan tanda yang kekal abadi.

Nama laksana cinta yang tak kan pernah pudar oleh sengatan masa, ia selalu ada.

Nama bukanlah barang mainan, karena ia hanya diberikan sekali saja, namun dipakai untuk selamanya.

Nama adalah doa yang akan mengiringi kehidupan sang pemiliknya, adalah alamat yang terpercaya, adalah irama yang tak bermelodi tapi sangat menyentuh hati, adalah identitas diri di dunia ini dan akhirat nanti, adalah harta yang tak ternilai harganya, adalah ruh dari setiap impian.

Di dalam keindahan dan kebaian sebuah nama, mengandung kekuatan spiritual, yakni makna substansial yang pada akhirnya akan menyembur keluar untuk menghiasi sang pemilik nama.

Anakku,

Muhammad Faqih Khalil el-Rahman…

Sebagaimana nama adalah doa, maka nama ini ayah pilih dengan segunung harap. Bukan sekedar pembeda, bukan hanya nama panggilan.

Andai nama tak punya arti, mungkin makhluk di dunia ini seluruhnya tak butuh nama dan tak perlu diberi nama.

Kelak, engkau harus memahami mengapa nama itu yang dipilih ayah bundamu.

“Al-Faqih”, sang ahli Fiqih. Nama ini ayah pilihkan dengan berjuta harapan, jadilah engkau seorang yang “berani” memutuskan hukum dan keadilan, membenarkan yang benar dan memberikan sangsi bagi tiap pelanggaran.

Anakku…

Untuk menetapkan hukum sesuatu hal dalam agama kita, Islam, tidak bisa sembrono. Tidak ada sesuatu pun yang tidak ada tuntunannya dalam agama. Masalahnya adalah sejeli apa kita bisa melihat. Seperti kata Syaikh Ali at-Thanthawi, Allah tidak membiarkan manusia kebingungan dalam keadaan tanpa petunjuk. Segalanya sudah diberi petunjuk lengkap, tinggal bagaimana kita membaca petunjuk tersebut dengan segenap kemampuan akal kita.

Sangat miris jika melihat kenyataan kini, ketika fiqih dipermainkan sedemikian rupa oleh orang-orang yang tak sedikit pun berkompeten. Mereka menjual fiqih dengan harga yang sangat murah, bisa ditawar tergantung kemampuan pembeli. Seperti pedagang, mereka pun berprinsip “pembeli adalah raja”. Maka agama pun berubah-ubah sesuai hawa nafsu manusia.

Sesuatu yang hukumnya haram bisa menjadi halal, demikian pula yang halal bisa dibuat-buat menjadi haram. Semuanya tergantung pesanan. Ada pihak-pihak tertentu di antara umat Islam yang tidak malu-malu lagi mengubah-ubah hukum agama asalkan ada pesanan. Lebih menyedihkannya lagi, pesanan tersebut justru datang dari luar umat Islam.

Anakku…

Perlu kecerdasan yang tinggi, pemahaman yang mendalam, kejelian melihat, ketekunan meneliti, dan kelapangan hati untuk mengurusi masalah-masalah fiqih. Berjilid-jilid buku yang diterbitkan sebagai hasil pemikiran para ulama sebenarnya menunjukkan kepada kita betapa berat dan kompleksnya masalah fiqih ini, dan bukannya justru mengambil kesempatan untuk memecah-belah umat. Sebaliknya, jika memang ada provokasi, semestinya kita pun cukup bijak untuk membungkam sang provokator. Perbedaan dalam urusan fiqih itu memang pasti ada, begitulah kenyataannya. Ini semua adalah akibat dari perbedaan sudut pandang yang tidak bisa dihindari.

Anakku,

Muhammad Faiz Jaisyi el-Rahman…

Apa yang terpikir di benakmu saat engkau ku beri nama “Al-Faiz”, Sang Pemenang, Sang Pejuang…????

Subhanallah wal hamdulillah.

Sang Pejuang merupakan gelar kehormatan bagi seseorang yang minimal melakukan upaya keras, kerja cerdas dan melakukan karya nyata yang tulus di berbagai arena kehidupan dan mampu melahirkan sejarah besar yang kan dikenang oleh generasinya dan generasi sesudahnya.

Simaklah, Nak, sosok pejuang sejati yang terus dikenang sepanjang masa sebagai sosok mujahid kaffah, bukan sekedar sukses meninggikan peradaban Islam, tetapi juga sukses sebagai enterpreunership, panglima perang, politikus, budayawan, kepala rumah tangga dan seluruh bidang kehidupan tanpa cacat. Dialah Muhammad bin Abdullah.

Setiap orang dapat menyimak, menyaksikan dan merasakan pengaruh perjuangannya, walau pun di balik itu taruhannya adalah persembahan para syuhada terbaik yang sampai kini belum ada yang menyamai ketulusan dan perjalanan kehidupannya. Itu lah Sang Pejuang Sejati.

Indahnya namamu, indahnya budimu!

Indahnya namamu, indahnya kehidupanmu!

Sebuah Foto yang Bercerita



Sebuah Keluarga adalah Cinta

Anakku...

Kemanapun kita pergi,

Dan apapun yang kita lakukan,

Biarkan kita hidup dengan

Mengingat di dalam hati kita

Bahwa kita adalah keluarga

Apa yang kita beri satu dengan yang lain

Menjadi suatu lingkaran penuh,

Semoga kita selalu menjadi

Teman yang terbaik,

Semoga kita selalu menjadi

Pelangi bagi satu dengan yang lain

Di hari yang mendung

Sebagaimana yang pernah kita lakukan kemarin

Dan hari ini bersama-sama

Semoga kita diberkati

Di semua hari-hari esok kita…

Selalu… dan selalu lagi….

Karena kita adalah keluarga

Dan itu berarti cinta

Yang tidak ada akhirnya.

Sajak untuk Anakku

Sayang

Anakku sayang,

Ini hari matahari telah bergerak panas

Kelak kau tahu

Ada punggung yang terbakar di bawahnya

Menggendongmu dengan cinta

Kelak engkau mesti menggendong ummat

Dengan cinta

Sayang

Anakku sayang,

Kalau aku telah mendengarkan lisanmu

Dan ibumu telah mendekapmu dengan cinta

Kelak kau tahu

Seperti itulah

Kelak engkau mesti memeluk ummat

Dengan cahaya Allah

Yang tak pernah sunyi

Sayang

Anakku sayang,

Hisaplah air susu ibumu tanpa ragu

Sebab dari air susu itulah

Kau belajar keikhlasan cinta sejati

Dan pancaran cinta Ilahi

Dapat kau rasukkan dalam darahmu

Kelak

Dengan keikhlasan cinta yang memancar dari-Nya

Kau mesti menyampaikan surat cinta-Nya

Sayang

Anakku sayang,

Menangislah menangis engkau hari ini

Air matamu

Biarlah mengalir untuk-Nya

Agar kelak engkau tidak kehabisan senyum

Untuk orang-orang lapar

Sayang

Anakku sayang,

Ini hari

Kami masih memberikan cinta

Kepadamu

Sesudahnya

Kelak kami ingin membanggakanmu

Di hadapan majelis Allah

Bahwa kau telah mengenal-Nya

Di masjid dan di tempat orang-orang menderita

(M. Fauzil Adhim)

Untuk Anakku

Sebagai orang tua,

Sebagai seseorang dan

Sebagai seorang teman


Aku akan selalu ada di sini untukmu

Ketika kamu membutuhkan seseorang

Untuk diajak bicara

Aku berharap kamu akan

Berbicara kepadaku

Ketika kamu membutuhkan seseorang

Untuk diajak tertawa

Aku berharap kamu akan

Tertawa bersama denganku


Ketika kamu membutuhkan seseorang

Untuk menasihatimu

Aku berharap kamu

Akan datang kepadaku

Ketika kamu membutuhkan seseorang

Untuk membantumu

Aku berharap kamu akan

Membiarkan aku untuk membantumu

Aku menghargai dan mencintai

Semuanya mengenai dirimu

Anak sayang

Dan aku akan selalu mendukungmu

Sebagai orang tua, sebagai seseorang

Dan sebagai seorang teman.

Surat Ayah Kepada Anaknya

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat
seorang ayah kepada anaknya yang sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik Tuhannya.


Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi,kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa erusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit. Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya. Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti.

Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.

Sebuah tulisan yang saya sendiri pun tak tahu siapa penulisnya, tapi yang saya tahu
Ia menyadarkan saya akan betapa besar kecintaan orangtua…

Entah mengapa air mata menetes ketika tulisan itu ku baca dan ku mau kau pun merasakan apa yang aku rasakan. Sahabat, cintailah ayahmu selagi ia disampingmu...

Sayang ayah sungguh…

Sumber: http://tintapenariky.blogspot.com