Sabtu, 09 Februari 2008

Blog Baru Saya

Hai sobat, bapak, ibu, sodara-sodara, ikhwan dan akhawat....
kunjungi blog saya yang baru di www.taufik79.wordpress.com
Jangan lupa kasih saran dan comment yang konstruktif ya...
semoga kebersamaan kita tiada berakhir

Minggu, 20 Januari 2008

Regenerasi Ini di Tanganmu, Anakku!

Tuhanku,
binalah anak hamba
untuk menjadi seseorang yang cukup kuat untuk mengakui kelemahannya,
dan cukup berani untuk mengakui ketakutannya,
bangga dan tabah serta jujur dalam mengakui kekalahan,
rendah hati dan lemah lembut dalam kemenangan.

Binalah anak hamba menjadi seseorang yang mampu mewujudkan cita-citanya,
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja;
seorang anak yang sadar bahwa mengenal Engkau dan mengenal dirinya sendiri,
adalah landasan segala pengetahuan.

Kumohon kepadaMu,
janganlah pimpin dia di jalan yang mudah dan enak,
namun berilah dia kesempatan untuk mengalami tekanan dan cobaan
di jalan yang penuh kesulitan dan tantangan.
Berilah dia kesempatan belajar
untuk tetap tegak dalam prahara,
dan welas asih kepada yang mengalami kegagalan.

Binalah anak hamba untuk berhati tulus,
dan bercita-cita tinggi;
seorang anak yang mampu memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain;
seorang anak yang memahami arti tawa ceria,
tanpa melupakan arti tangis duka;
seorang anak yang mampu memandang jauh ke masa depan,
namun tidak melupakan masa yang telah silam.

Dan bila semua ini telah menjadi miliknya,
aku mohon kepadaMu, tambahkanlah secercah kejenakaan,
supaya dia dapat bersungguh-sungguh,
dan juga dapat menikmati hidupnya.

Anugerahilah dia kerendahan hati dan kesederhanaan,
yang merupakan dasar keagungan yang sejati,
kesediaan untuk menerima kenyataan,
yang merupakan dasar kearifan yang sejati,
dan kelembutan yang merupakan dasar dari kekuatan yang sejati.

Dan akhirnya, jika semua itu telah terwujud,
hamba, ayahnya,
akan memberanikan diri untuk berbisik,
“hidup hamba tidaklah sia-sia.”

Sebuah Catatan Ringan bagi Orang Tua

"Anak-anak adalah sumber alam yang paling berbahagia."

(Herbert Hoover)

"Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga," kata sebuah peribahasa. Kita, para orang tua, tentu paham benar arti peribahasa tersebut. Perilaku anak berasal dari orang tuanya. Baik orang tua, baik pula anaknya. Buruk orang tua, buruk pula anaknya.

Dengan indah, peribahasa itu mengumpamakan orang tua sebagai atap, bagian paling atas dari rumah. Posisi yang memberikan perlindungan kepada seluruh anggota keluarga. Atap jugalah yang kemudian meneteskan air ke pelimbahan, yakni anak-anak kita. Dan, air adalah karakter yang diwariskan kepada anak-anak, meluncur deras sesuai sunnatullah dari atap menuju pelimbahan.

Ya, disadari atau tidak, tingkah laku dan kebiasaan kita, para orang tua, sebenarnya menjadi cerminan bagi anak-anak di rumah. Memang benar ada karakter yang diwariskan secara genetis kepada anak-anak, seperti yang diuraikan berbab-bab oleh para ahli biologi. Tetapi, sebenarnya jauh lebih banyak karakter yang diperoleh anak-anak dari hasil didikan kita.

Anak-anak belajar dari orang tua mereka dengan cara mendengarkan, mengamati, dan memikirkan tingkah laku orang tua. Kebiasaan ibunya membuatkan secangkir kopi bagi ayahnya, kebiasaan ayahnya berpamitan kepada ibunya pada saat berangkat ke tempat kerja, kebiasaan mereka berdua mencurahkan kasih sayang pada mereka, anak-anaknya, menjadi pelajaran-pelajaran yang lebih berkesan ketimbang duduk mendengarkan ceramah berjam-jam. Bahkan, kebiasaan "sepele" seperti jam berapa menyalakan televisi dan acara apa yang biasa kita saksikan, seluruhnya terekam baik dalam ingatan anak-anak.

Anak-anak adalah cermin bagi orang tua. Bagaimana orang tuanya, begitulah anaknya. Like father, like sons. Saat kita tatap matanya, amati bentuk hidungnya, cara berjalannya, dan gaya bicaranya, kita akan temukan diri kita pada anak-anak. Maka, bila kita tidak ingin dipermalukan di depan orang lain oleh tingkah polah anak-anak, berarti kita pun jangan berbuat hal yang memalukan di depan anak-anak kita sendiri.

Dorothy Law Nolte menuliskan sebuah puisi indah yang menceritakan hubungan pendidikan orang tua dengan pembentukan karakter anak-anak. Sengaja kami cuplikan sebagai bahan renungan kita bersama.

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan,

ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,

ia belajar berkelahi.

JIka anak dibesarkan dengan cemoohan,

ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,

ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi,

ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan,

ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian,

ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan,

ia belajar keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,

ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan,

ia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,

ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Bila anak tumbuh menjadi liar, keras, pendendam, dan tidak punya sikap penyayang, tentu tidak muncul begitu saja. Kitalah para orang tua yang merekayasa semuanya.

Tidak ada "horor" yang lebih menakutkan bagi anak-anak selain kehilangan kasih sayang. James Coleman, dalam Abnormal Psychology and Modern Life, menyebut kekurangan kasih sayang sebagai communicable disease "penyakit menular". Karena itu, Islam sebagai agama yang membawa misi rahmatan lil 'alamin mewajibkan orang tua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. "Orang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya," kata Rasulullah SAW. Bahkan, Allah SWT berfirman,

"Bertakwalah kamu kepada Allah tempat kamu saling memohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga." (QS. An-Nisaa: 1)

Tidak ada tempat yang lebih aman bagi seorang anak selain di pelukan orang tuanya. Karena, anak-anak senantiasa membutuhkan kekuatan untuk bersandar, dada untuk menangis, dan contoh untuk belajar. Bila kita memberikan semua itu pada mereka, maka lebih dari sekadar perwujudan kasih sayang, tapi bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Ada sebuah riwayat menarik mengenai hal itu. Diriwayatkan bahwa ada seorang wanita miskin datang menemui Aisyah r.a.. Aisyah berkata, "Ia membawa dua orang anak wanita. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, wanita itu tidak makan kurma satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku wanita itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda,

"Barang siapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbaik hati kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka." (HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)

Selain itu, anak-anak juga memiliki hak untuk mendapatkan harta dan pendidikan. Tanpa keduanya, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lemah.

Allah SWT berfirman,

"Hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisaa: 9)

Bukanlah orang tua yang baik jika mereka meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan lemah iman, ilmu, dan harta. Anak-anak membutuhkan semuanya.

Suatu ketika, Luqmanul Hakim bercakap-cakap dengan anaknya,

"Wahai ayah, apa yang terbaik bagi manusia?"

"Agama," jawab Luqman.

"Kalau dua?"

"Agama dan harta."

"Kalau tiga?"

"Agama, harta, dan rasa malu."

"Bila empat?"

"Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang mulia."

"Jika lima?"

"Agama, harta, rasa malu, akhlak yang mulia, dan dermawan."

Anaknya bertanya lagi, "Jika enam?"

Luqman menjawab, "Anakku, jika yang lima itu berkumpul pada diri seorang hamba, dia adalah orang yang bertakwa. Allah akan menolong orang yang menjauhi setan."

Soundtrack Keluarga Cemara menyebutkan bahwa keluarga memang hal yang terindah. Keluarga adalah harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara. Karena anak setara dengan mutiara, tegakah kita membenamkannya di kubangan lumpur dunia? Lagipula, anak yang saleh adalah satu dari tiga perkara yang dapat terus-menerus mengalirkan pahala kepada kita. Rasulullah SAW bersabda,

"Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak saleh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya." (HR. Muslim)

Kita dan Anak-anak Palestina

Mohammad ad-Durra, bocah Palestina berusia 12 tahun, harus meregang nyawa ditembus peluru serdadu Yahudi Israel pada 30 September 2000 lalu saat terjadi bentrokan berdarah antara polisi Israel dan warga muslim Palestina di Netzarim, Jalur Gaza. Kalo kamu rajin baca berita, pasti bisa mendapatkan foto "eksklusif" yang diabadikan oleh dua wartawan Palestina yang bekerja untuk TV Prancis. Foto tersebut seolah "berbicara" dan menjelaskan bagaimana biadabnya serdadu Israel ketika membantai Mohammad ad-Durra yang berada dalam pelukan ayahnya.

Mohammad ad-Durra dan puluhan remaja seusianya harus rela kehilangan masa depan. Berjuta impian yang sudah dirajut harus punah dalam sekejap. Beribu harapan sirna dalam hitungan detik. Ya, itu adalah kenyataan yang memang pahit dan getir. Anakku, ini akan terus terjadi dan bakal terulang bila umat Islam cuma diam atau hanya mengutuk, tapi minus tindakan nyata. Jelas, itu akan membuat orang-orang Israel besar kepala dan akan merasa enteng melenyapkan nyawa orang-orang Palestina.

Republika melaporkan, sampai akhir Oktober 2000 sudah 300-an orang lebih yang tewas dan sekitar 1.000 lainnya luka-luka. Kamu akui atau tidak, mereka adalah saudara-saudara kita. Saudara seiman dan seakidah. Masihkah kita tidak peduli dengan nasib sesama muslimin?

Gagahnya Anak Palestina

Tidak kurang dari 300 anak Palestina berusia antara 5 hingga 8 tahun berkumpul di kantor Komite Palang Merah Internasional di Tyre, Lebanon Selatan. Mereka duduk di halaman itu sambil membawa sejumlah poster dan sepanduk kemarahan. Di antara spanduk itu bertuliskan, "Kami semua adalah saudara syuhada Mohammad ad-Durra." Lalu, dalam spanduk lain berbunyi, "Israel telah membantai anak-anak Palestina." (Republika, 5/10/2000).

Sementara, sebagian bocah lainnya yang berasal dari tiga tempat kamp pengungsi di Tyre itu membawa sejumlah plakat yang bisa menggelorakan semangatnya, "Berjuang dan angkat senjata, satu-satu jalan untuk membebaskan tanah Palestina." "Palestina bertanggung jawab terhadap semua yang ada pada kami," bunyi lainnya.

Anakku, dua hal yang bisa menganggap rintangan sebagai tantangan adalah semangat dan keberanian. Tentu keberanian yang berhasil dimunculkan dari akidah yang benar. Akidah Islam yang kuat dan bersih. Keberanian itu sekarang tumbuh pada anak-anak Palestina.

"Saya ingin membunuh orang-orang Israel seperti mereka membunuh saudara kami Mohammad ad-Durra," kata Mohammad Natour, 14 tahun. Heroik memang. Rekannya yang lain, Ihab al-Sadid (12 tahun), mengaku sangat kesal dengan aksi brutal tentara Israel yang menembaki anak-anak Palestina. Ia mengatakan, "Mereka membunuh anak-anak. Sebab, mereka takut kalau nanti besar, kami akan melawan mereka."

Tentu pikiran seperti itu nggak muncul begitu saja, tapi melalui proses. Siapa tahu, anak-anak dididik oleh orang tua mereka untuk menjadi pejuang Islam yang gagah berani. Masih nggak percaya? Coba kamu simak pernyataan Ridha Saleh, anak berumur 13 tahun, dengan mengenakan seragam militer dan meminta wartawan foto untuk mengambil gambarnya, ia mengatakan, "Saya juga ingin mati syahid dan hanya ingin mati di sana."

Palestina Tanah Kita

Palestina memang telah lama menjadi bagian tanah air kaum muslimin. Bahkan, Baitul Maqdis pernah menjadi kiblat pertama sebelum dialihkan ke Ka'bah. Status Palestina sebagai milik umat Islam semakin kokoh melalui perjanjian yang dibuat Amirul Mukminin Umar ibnul-Khaththab dengan orang-orang Kristen Palestina. Saat itu, Khalifah Umar membuat perjanjian yang terkenal dengan nama al-Ihdat al-'Umariyyah 'perjanjian Umar', yang berbunyi, ".... atas nama Islam dan kaum muslimin.... Tidak boleh seorang Yahudi pun tinggal bersama kaum muslimin di Baitul Maqdis." (Ibnu Jarir ath-Thabrani, Tarikhul Umam wal-Muluk, pada judul "Iftitah Baitul Maqdis" 'Penaklukan Baitul Maqdis').

Setelah Khilafah Islamiyyah 'pemerintahan Islam' runtuh, orang-orang Yahudi seperti mendapat angin untuk kembali mendapatkan tanah Palestina. Dengan dukungan Inggris, Amerika, dan PBB, mereka mendirikan negara Israel Raya.

Bagaimana dengan Kita?

Kita dan anak-anak Palestina memang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Antara kita dan anak-anak Palestina terbentang lautan dan daratan yang luas sekali. Tapi, sebetulnya kita punya rasa, kita punya cinta, dan kita punya luka yang sama dengan mereka.

Sobat, mereka siap menggelorakan semangat jihad untuk mengusir serdadu Israel yang telah merampok tanah mereka. Kita pun semestinya punya sikap seperti itu.

Ketika anak-anak Palestina meregang nyawa ditembus peluru Israel, sedang apakah kita? Main basket? Tidur nyenyak? Atau, malah sedang tawuran dengan teman sekolah lain? Ironis bukan?

Juga, ketika teman-teman kita menderita di pengungsian akibat diusir dari negeri mereka sendiri, kita sedang berbuat apa? Main game, pacaran, nonton konser musik, atau malah sedang asyik melahap makanan "bule" di resto kelas wahid dengan harga selangit? Lalu, di mana rasa peduli kita terhadap saudara sendiri?

Anakku, anak-anak Palestina sudah kenyang dengan segala penderitaan dan kekecewaan akibat ulah orang-orang Yahudi yang menggasak tanah mereka dan mengusirnya bak pesakitan. Sekali lagi itu adalah saudara kita. Saudara yang seharusnya "bersatu" dalam suka dan duka, dalam sedih dan gembira. Masihkah kita mengatakan bahwa itu adalah orang lain? Tidak, mereka adalah kita. Ya, kita. Bukan siapa-siapa dan bukan orang lain. Kaum muslim di Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, Filipina, atau di negeri sendiri, Ambon, Aceh, dan yang lainnya, pokoknya seluruh kaum muslimin di penjuru dunia adalah saudara kita. Kita dipersatukan dan dipersaudarakan dengan Islam. Bukan dengan yang lain.

Kalo sekarang kita nggak merasa bahwa mereka adalah saudara kita, itu dikarenakan kita tersekat oleh dinding nasionalisme. Ya, itulah penyebab terbesar matinya rasa persaudaraan kia! Ternyata, ide nasionalisme telah membutakan mata kita. Sehingga, kita nggak bisa "menengok" saudara kita yang tengah menderita. Kita menjadi orang yang super cuek alias nggak mau peduli terhadap urusan saudara kita sendiri, padahal Rasulullah SAW telah mengibaratkan persaudaraan kita bak satu tubuh,

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badannya merasa kesakitan, seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kumpulan Hadits Arba'in karya Imam Nawawi tertulis,

"Dari Abu Hamzah (yaitu) Anas bin Malik r.a. pelayan Rasulullah SAW, dari Nabi SAW, beliau bersabda, 'Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dua hadits tadi semestinya cukup memberikan "sentuhan" kepada kita bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah ibarat satu tubuh. Kita bersaudara, sayang. Nggak mungkin dong, tangan kiri kita kejepit pintu, eh, tangan kanan malah nyukurin. 'Kan aneh, iya nggak? Nah, begitupun dengan saudara kita di Palestina. Mereka lagi menderita. Nggak waras dong kalo kita cuek bahkan nggak mau tahu banget. Kalau itu terjadi, itu namanya muslim "biadab". Jangan sampai deh nurani kita begitu bebal. Kita 'kan buka batu. Kita manusia yang memiliki perasaan. Rasa cinta, rasa sayang, dan "berjuta" rasa lainnya. Sebaiknya memang kita merenungkan kembali firman Allah SWT sekaligus meneladani Rasul-Nya,

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al-Fath: 29)

Kita harus peduli pada nasib saudara kita di belahan bumi manapun termasuk Palestina.

Jadi, bagaimana sekarang? Memang solusi untuk membebaskan Palestina dari cengkraman Israel adalah dengan mengangkat senjata. Berarti pemecahannya adalah dengan jihad. Kamu perlu tahu bahwa jihad adalah fardhu 'ain bagi penduduk yang berada di daerah konflik (Palestina dan sekitarnya), sedangkan bagi yang jauh seperti kita yang di sini, "jatuhnya" adalah fardhu kifayah.

Dan perlu kamu tahu, Palestina barulah satu medan penderitaan, masih banyak "medan" yang lain. Ada Ambon yang begitu dekat dengan kita, lalu Moro di Filipina, Myanmar, Pattaya di Thailand, dan tragedi Kashmir yang belum juga selesai. Kepada mereka, kita curahkan perhatian dan segala bantuan yang kita mampu. Minimal, ya paling minimal adalah dengan mendoakan mereka supaya tetap kuat melawan musuh-musuh agama!


Senin, 14 Januari 2008

Sebuah Ajakan


Adalah tanggung jawab setiap orang tua, ayah dan ibu, untuk "'mensurgakan" anak-anaknya. Kesadaran bahwa tugas utama "mensurgakan" anak adalah tugas kita sendiri, orang tua, akan memberikan pengaruh positif dan motivasi terciptanya lingkungan keluarga untuk lahirnya anak-anak yang cerdas.
Mencerdaskan anak tidak hanya berarti mensurgakannya di akhirat kelak, tetapi juga memberikan "aroma" surgawi di dunia ini, sekarang dan di sini!
Bila hal itu menjadi kepedulian dan harapan kita, mari bersama bergandeng tangan, menyelamatkan generasi masa depan!

Seandainya Bisa Membesarkan Ulang Anak Kita...

Seandainya saja saya bisa membesarkan ulang anak saya
saya akan lebih banyak bermain cat, dan mengurangi main perintah
saya akan lebih sedikit mengoreksi, dan lebih banyak mengait-ngaitkan
saya akan sedikit menghitung-hitung waktu, dan lebih banyak memperhatikan
saya akan mengurangi main selidik, dan lebih banyak memperhatikan
saya akan lebih sering berjalan-jalan, danlebih sering bermain layang-layang
saya akan mengurangi bersikap serius, dan lebih serius bermain-main
saya akan lebih sering bermain-main di lapangan, dan lebih banyak mengamati bintang bintang
saya akan lebih banyak memeluk, dan lebih sedikit membentak
saya akan tidak banyak melarang-larang, dan lebih banyak mengiyakan
saya akan lebih dulu membangun harga dirinya, sebelum membangun rumah
saya akan lebih sedikit mengajarkan cinta akan kekuatan, dan lebih banyak mengajarkan kekuatan cinta

(Author unknown)

Renungan Dua Tahun Pernikahan

Ketika kau lahir dulu itu, anakku
kami melihat dua bintang cemerlang di kedua bola matamu
O, anakku sayang
lalu aku dan ibumu pun saling memandang
mensyukuri nikmat yang tak tertahankan
ialah engkau
Anakku sayang

Bergantilah hari demi hari
engkau pun tumbuh
andai bunga, dikau mekar dan jelita
andai matahari, dikau gagah dan cerlang bercahaya
bagai pelangi, bagai bulan, bagai bintang, bagai hujan,
bagai gunung, bagai lautan ...
semesta ayat Tuhan bekerja dalam tubuhmu,
dalam inderamu, dalam jiwa ragamu,
dan kami suburkan hari ke hari dalam harapan
agar berimanlah engkau
bagai Khadijah, bagai Aisyah, bagai Asiah,
bagai Zulaikha, bagai Maryam, bagai Rabiah,
bagai Ibrahim, bagai Nuh, bagai Sulaiman,
bagai Musa, bagai Yusuf, bagai Isa,
beriman mereka hanya kepada Allah saja
bermakmum mereka hanya kepada Rasulullah
rasul pilihan-Nya

Maka di hari ini, Ananda
ketika keringat dan air mata membesarkanmu
telah menjadi ibadah di hari ini
ketika sesaat lagi kau akan hadapi sendiri
sejuk angin atau topan badai,
kemilau pagi atau gelap malam,
manis dan asamnya rasa kehidupan,
tak ada yang dapat kami katakan kecuali
"Ya Habibati, yaa habibi! Laa Tusyrik billah!

Ananda permata sayang,
Ridha Allah bukan pada banyak uang kalian kumpulkan
atau benda-benda kebutuhan yang selalu menggiurkan
bukan pada ketinggian pangkat atau derajat,
jabatan, apa pun namanya kemuliaan
dengan ukuran-ukuran keberhasilan yang dicanangkan orang

Demi Ia yang mencipta langit, bumi dan segala yang ada di antara keduanya
Keridhaan Allah itu ananda permata,
ada pada urusan kalian bersedia dan rela
patuh tunduk dan setia,
menjadi hamba sepenuhnya
ialah berTuhan hanya kepada-Nya!
menomersatukan Allah di atas segala urusan dunia!
Hingga genaplah zikir kalian
Ilahi anta maqsudi, wa ridhaka mathlubi.

(Renungan 2 tahun usia pernikahan, 15 Januari 2006, dan 9 bulan usia anak kami)
Thank to Nenno Warisman for inspiration...

Minggu, 30 Desember 2007

Selamat Tahun Baru 2008


Sesungguhnya hitungan nafas telah ditetapkan, hitungan detik telah diperhitungkan.
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi modal tapi tidak digunakannya,
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi nafas tapi disia siakannya,
sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi waktu tapi disia siakannya,

Demi Allah, sesungguhnya semakin dekat ujung kehidupan kita,
Hisab semakin nyata, dan sesungguhnya Hisab Allah amatlah berat,
Saudaraku, Janganlah sia siakan nafas kita, jangan sia siakan waktu kita,
Sesungguhnya Hanya Allahlah tujuan kita...

Perjalanan hidup manusia, menempuh alam dunia
menghabiskan waktu, yang tiada lama

Usia bertambah makin senja, tiada terasa tak tersadar
Semakin dekatlah kematian, akan menjelang tiba

Sadarilah, usia amanah dari Ilahi
Sadarilah, ia pasti kan dimintai
Pertanggung jawabannya pada Ilahi
Sadarilah, jalani hidup ini penuh makna
Sadarilah, pastikan ia berarti diakhirat yang abadi.

*********

DOA AKHIR TAHUN....

Bismillaahirrahmaanirraahiim, wa shollalloohu'alaa sayyididinaa muhammaadin wa'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama, Alloohumma maa'amiltu fii hadzihis sanati mimmaa nahaitanii'anhu falam atub minhu wa lam tardhohu wa lam tansahu wa hamiltu 'alayya ba'da qudrotika 'uquubati wa da'autanii ilattaubati minhu ba'da jiroo-atii 'alaa ma'shiyatika fa-innii astaghfiruka faghfirlii bifadhlika wa maa'amiltuhu fiiha mimma tardhoohu wa wa'adtanii 'alaihits tsawaba wa as-aluka. Alloohumma yaa kariimu yaadzal jalaali wal ikroomi antaqobbalahu minnii walaa taqtho' rojaa-i minka yaa kiriimu wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama.

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau. Wahai Tuhanku, apa yang hamba perbuat sepanjang tahun ini berupa perbuatan perbuatan yang Paduka larang hamba melakukannya, sedangka hamba belum bertaubat dari padanya dan Paduka tidak meridhainya dan tidak melupakannya, dan Padukapun telah menyayangi hamba setelah Padukapun kuasa untuk menyiksa hamba, kemudian Paduka menyeru hamba untuk bertaubat setelah hamba bermaksiat kepada Paduka. Karena itu, hamba mohon ampunan dari Paduka, maka ampunilah hamba dengan Anugerah-Mu.
Dan apa yang telah hamba kerjakan ditahun ini adalah berupa perbuatan yang Paduka ridhai dan Paduka janjikan pahala atasnya, Hamba mohon pada-Mu wahai Tuhanku, Dzat Yang Maha Mulia, yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, agar Paduka terima amalan hamba dan jangan hendaknya Paduka putuskan harapan hamba dari-Mu, wahai Dzat Yang Maha Mulia. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau."

*********

DO'A AWAL TAHUN....

Bismillaahirohmaanirrohiim. wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama. Allohumma antal abadiyyul qodiimul awwalu wa 'alaa fadhlikal 'adliimi wujuudikal mu'awwali wahaadza'aamunjadiidun qod aqbala nas-alukal 'ishmata fiihi minasysyaithooni wa auli yaa-ihi wa junuudihi wal 'auni 'alaa haadzihil ammaaroti bissuu-i wal istighooli bimaa yuqorribunii ilaika zulfa yaa dzal jallali wal ikroom. wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama.

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau.
Wahai Tuhanku, Paduka adalah Dzat Yang Maha Kekal, dahulu dan Awal. Hanya denga anugrah dan kemurahan-Mu yang agung, telah datang tahun baru. Di tahun ini kami memohon pemeliharaan-Mu dari Syetan, kekasihnya dan balatentaranya, dan kami memohon pertolongan-Mu atas hawa nafsu yang mengajak kepada kejelekan, dan kami memohon kesibukan dengan perbuatan yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau."

Amiin ya robbal 'alamiin...

Wallohua'laam bishshowab...


Sabtu, 29 Desember 2007

Indahnya Namamu...

Nama…

Nama adalah tanda pembeda, tanda yang punya arti, tanda yang punya tujuan, tanda yang menyimpan kekuatan, tanda yang menyimpan harapan, tanda untuk mengukir sejarah, tanda yang bisa dikenang, tanda untuk saling mengenal dan mengasihi, dan tanda yang kekal abadi.

Nama laksana cinta yang tak kan pernah pudar oleh sengatan masa, ia selalu ada.

Nama bukanlah barang mainan, karena ia hanya diberikan sekali saja, namun dipakai untuk selamanya.

Nama adalah doa yang akan mengiringi kehidupan sang pemiliknya, adalah alamat yang terpercaya, adalah irama yang tak bermelodi tapi sangat menyentuh hati, adalah identitas diri di dunia ini dan akhirat nanti, adalah harta yang tak ternilai harganya, adalah ruh dari setiap impian.

Di dalam keindahan dan kebaian sebuah nama, mengandung kekuatan spiritual, yakni makna substansial yang pada akhirnya akan menyembur keluar untuk menghiasi sang pemilik nama.

Anakku,

Muhammad Faqih Khalil el-Rahman…

Sebagaimana nama adalah doa, maka nama ini ayah pilih dengan segunung harap. Bukan sekedar pembeda, bukan hanya nama panggilan.

Andai nama tak punya arti, mungkin makhluk di dunia ini seluruhnya tak butuh nama dan tak perlu diberi nama.

Kelak, engkau harus memahami mengapa nama itu yang dipilih ayah bundamu.

“Al-Faqih”, sang ahli Fiqih. Nama ini ayah pilihkan dengan berjuta harapan, jadilah engkau seorang yang “berani” memutuskan hukum dan keadilan, membenarkan yang benar dan memberikan sangsi bagi tiap pelanggaran.

Anakku…

Untuk menetapkan hukum sesuatu hal dalam agama kita, Islam, tidak bisa sembrono. Tidak ada sesuatu pun yang tidak ada tuntunannya dalam agama. Masalahnya adalah sejeli apa kita bisa melihat. Seperti kata Syaikh Ali at-Thanthawi, Allah tidak membiarkan manusia kebingungan dalam keadaan tanpa petunjuk. Segalanya sudah diberi petunjuk lengkap, tinggal bagaimana kita membaca petunjuk tersebut dengan segenap kemampuan akal kita.

Sangat miris jika melihat kenyataan kini, ketika fiqih dipermainkan sedemikian rupa oleh orang-orang yang tak sedikit pun berkompeten. Mereka menjual fiqih dengan harga yang sangat murah, bisa ditawar tergantung kemampuan pembeli. Seperti pedagang, mereka pun berprinsip “pembeli adalah raja”. Maka agama pun berubah-ubah sesuai hawa nafsu manusia.

Sesuatu yang hukumnya haram bisa menjadi halal, demikian pula yang halal bisa dibuat-buat menjadi haram. Semuanya tergantung pesanan. Ada pihak-pihak tertentu di antara umat Islam yang tidak malu-malu lagi mengubah-ubah hukum agama asalkan ada pesanan. Lebih menyedihkannya lagi, pesanan tersebut justru datang dari luar umat Islam.

Anakku…

Perlu kecerdasan yang tinggi, pemahaman yang mendalam, kejelian melihat, ketekunan meneliti, dan kelapangan hati untuk mengurusi masalah-masalah fiqih. Berjilid-jilid buku yang diterbitkan sebagai hasil pemikiran para ulama sebenarnya menunjukkan kepada kita betapa berat dan kompleksnya masalah fiqih ini, dan bukannya justru mengambil kesempatan untuk memecah-belah umat. Sebaliknya, jika memang ada provokasi, semestinya kita pun cukup bijak untuk membungkam sang provokator. Perbedaan dalam urusan fiqih itu memang pasti ada, begitulah kenyataannya. Ini semua adalah akibat dari perbedaan sudut pandang yang tidak bisa dihindari.

Anakku,

Muhammad Faiz Jaisyi el-Rahman…

Apa yang terpikir di benakmu saat engkau ku beri nama “Al-Faiz”, Sang Pemenang, Sang Pejuang…????

Subhanallah wal hamdulillah.

Sang Pejuang merupakan gelar kehormatan bagi seseorang yang minimal melakukan upaya keras, kerja cerdas dan melakukan karya nyata yang tulus di berbagai arena kehidupan dan mampu melahirkan sejarah besar yang kan dikenang oleh generasinya dan generasi sesudahnya.

Simaklah, Nak, sosok pejuang sejati yang terus dikenang sepanjang masa sebagai sosok mujahid kaffah, bukan sekedar sukses meninggikan peradaban Islam, tetapi juga sukses sebagai enterpreunership, panglima perang, politikus, budayawan, kepala rumah tangga dan seluruh bidang kehidupan tanpa cacat. Dialah Muhammad bin Abdullah.

Setiap orang dapat menyimak, menyaksikan dan merasakan pengaruh perjuangannya, walau pun di balik itu taruhannya adalah persembahan para syuhada terbaik yang sampai kini belum ada yang menyamai ketulusan dan perjalanan kehidupannya. Itu lah Sang Pejuang Sejati.

Indahnya namamu, indahnya budimu!

Indahnya namamu, indahnya kehidupanmu!

Sebuah Foto yang Bercerita



Sebuah Keluarga adalah Cinta

Anakku...

Kemanapun kita pergi,

Dan apapun yang kita lakukan,

Biarkan kita hidup dengan

Mengingat di dalam hati kita

Bahwa kita adalah keluarga

Apa yang kita beri satu dengan yang lain

Menjadi suatu lingkaran penuh,

Semoga kita selalu menjadi

Teman yang terbaik,

Semoga kita selalu menjadi

Pelangi bagi satu dengan yang lain

Di hari yang mendung

Sebagaimana yang pernah kita lakukan kemarin

Dan hari ini bersama-sama

Semoga kita diberkati

Di semua hari-hari esok kita…

Selalu… dan selalu lagi….

Karena kita adalah keluarga

Dan itu berarti cinta

Yang tidak ada akhirnya.

Sajak untuk Anakku

Sayang

Anakku sayang,

Ini hari matahari telah bergerak panas

Kelak kau tahu

Ada punggung yang terbakar di bawahnya

Menggendongmu dengan cinta

Kelak engkau mesti menggendong ummat

Dengan cinta

Sayang

Anakku sayang,

Kalau aku telah mendengarkan lisanmu

Dan ibumu telah mendekapmu dengan cinta

Kelak kau tahu

Seperti itulah

Kelak engkau mesti memeluk ummat

Dengan cahaya Allah

Yang tak pernah sunyi

Sayang

Anakku sayang,

Hisaplah air susu ibumu tanpa ragu

Sebab dari air susu itulah

Kau belajar keikhlasan cinta sejati

Dan pancaran cinta Ilahi

Dapat kau rasukkan dalam darahmu

Kelak

Dengan keikhlasan cinta yang memancar dari-Nya

Kau mesti menyampaikan surat cinta-Nya

Sayang

Anakku sayang,

Menangislah menangis engkau hari ini

Air matamu

Biarlah mengalir untuk-Nya

Agar kelak engkau tidak kehabisan senyum

Untuk orang-orang lapar

Sayang

Anakku sayang,

Ini hari

Kami masih memberikan cinta

Kepadamu

Sesudahnya

Kelak kami ingin membanggakanmu

Di hadapan majelis Allah

Bahwa kau telah mengenal-Nya

Di masjid dan di tempat orang-orang menderita

(M. Fauzil Adhim)

Untuk Anakku

Sebagai orang tua,

Sebagai seseorang dan

Sebagai seorang teman


Aku akan selalu ada di sini untukmu

Ketika kamu membutuhkan seseorang

Untuk diajak bicara

Aku berharap kamu akan

Berbicara kepadaku

Ketika kamu membutuhkan seseorang

Untuk diajak tertawa

Aku berharap kamu akan

Tertawa bersama denganku


Ketika kamu membutuhkan seseorang

Untuk menasihatimu

Aku berharap kamu

Akan datang kepadaku

Ketika kamu membutuhkan seseorang

Untuk membantumu

Aku berharap kamu akan

Membiarkan aku untuk membantumu

Aku menghargai dan mencintai

Semuanya mengenai dirimu

Anak sayang

Dan aku akan selalu mendukungmu

Sebagai orang tua, sebagai seseorang

Dan sebagai seorang teman.

Surat Ayah Kepada Anaknya

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat
seorang ayah kepada anaknya yang sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik Tuhannya.


Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi,kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa erusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit. Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya. Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti.

Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.

Sebuah tulisan yang saya sendiri pun tak tahu siapa penulisnya, tapi yang saya tahu
Ia menyadarkan saya akan betapa besar kecintaan orangtua…

Entah mengapa air mata menetes ketika tulisan itu ku baca dan ku mau kau pun merasakan apa yang aku rasakan. Sahabat, cintailah ayahmu selagi ia disampingmu...

Sayang ayah sungguh…

Sumber: http://tintapenariky.blogspot.com

Jumat, 21 Desember 2007

From Your Mom

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.

Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

From your mom & dad

Sumber: http://www.kicaumania.org

"Kelak" itu Rasanya Tak lama

Ananda, putra-putraku tersayang

Inilah surat-surat Ayah untukmu. Ayah tahu, kamu belum lagi pandai membaca sebab kamu belum genap 1 tahun pada 19 April 2008 mendatang. Bahkan A-Z atau Alif-Ya pun belum sanggup kamu hafalkan sambil menyanyikannya. Tapi Ayah yakin, suatu saat kelak, kamu bakal membaca surat-surat ini. Dan “kelak” itu, rasanya tak akan lama.

Surat Ayah dari Yogya

Hai cinta ayah……
apa kabar kalian?
kalian pasti main terus ya?
kejar-kejaran kesana-kemari
repotin bunda yang nyuapin mamam kalian

Hai sayang ayah…..
disini banyak sekali ayah melihat
anak-anak seperti kalian yang terluka kepalanya
biasanya kepala mereka di perban
seperti juga anak temen ayah yang masih bayi
jadi ‘pitakan’ karena tertimpa kayu….

ada lagi yang patah kaki atau tangan
terpaksa di gips, tidak bisa bergerak banyak dan tak bisa sekolah

Sayang Ayah…..
perasaan ayah pilu sekali
sekarang
disini banyak juga anak-anak yang kehilangan ayah atau bundanya
juga ada yang kehilangan keduanya….
bahkan kemarin ada anak yang jadi sebatang kara
karena selain ayah dan bunda….adiknyapun meninggal karena gempa
hampir sekeluarga mereka jadi korban
duh….perasaan ayah tak menentu saat itu …..

Sayang Ayah…..
orang-orang disini banyak yang tak punya rumah
mereka tinggal di tenda-tenda darurat
( itu kalau sudah kebagian )
dengan makan seadanya
( lebih sering makan mie instan daripada nasi )

Ada juga yang terpaksa harus di Rumah Sakit
walau tak sedikit yang terluka dan tetap di tenda
setelah kakinya yang bolong kena paku dan ketiban besi
dijahit pak dokter lapangan

Sayang…..
do’akan mereka ya…..
agar hati mereka mengkristal bagai pualam
makin bersinar meski
dijatuhkan dilumpur kotor
seperti juga karang dilautan
yang tetap kokoh meski dihantam ombak menggulung geram

Sayang…..
kalau kalian jadi pemimpin kelak
ayah do’akan kalian selalu jadi orang pertama yang selalu berada disamping
mereka yang membutuhkan
yang kesusahan seperti mereka sekarang

Jangan kayak model pejabat yang suka pamer sumbangan
dan pinter kasih janji-janji juga acara seremonial
agar dipotret para wartawan
tersenyum senang karena wajahnya masuk tv
padahal masih banyak yang kesusahan
masih banyak yang merintih ….kelaparan
mengerang sedih di kegelapan
diantara tenda yang kehujanan

Jadilah pemimpin nak…..
yang hati dan jiwanya ada juga dibenak rakyatnya
sepenuhnya terpatri indah di lubuk mereka
karena memang kalian berikan seutuh-utuhnya
cinta dan pengorbanan……….

Epri…..05/06/06
Dusun Dukuh Sewon Bantul Jogjakarta

Sumber : http://laatahzan.wordpress.com

Seruan Anak Palestina

Dalam rintik hujan ini…Aku mendengar tangisan mereka…Jeritan mereka…Seruan mereka…Anak-anak Palestina…

Seruan itu semakin jelas kudengar…“Dimana kalian, saudaraku… Dimana kalian…”“Jangan lupakan kami, saudaraku… Jangan lupakan kami…”“Kami menunggumu saudaraku…”“Kami menunggumu… ““Kami akan selalu mennggumu…”

***

Hatiku teriris-iris…

Sebab pada hari ini begitu banyak umat muslim sedang menikmati tidurnya..Sedang di belahan bumi lainnya, umat muslim tak mampu bahkan dipaksa untuk tetap terjaga…

Sebab pada hari ini begitu banyak pikiran dan pendengaran umat muslim sedang hanyut dalam keindahan dunia…Sedang di belahan bumi lainnya, mereka dihibur oleh suara bom dan letupan senjata..

Sebab pada hari ini begitu banyak umat muslim sedang tertawa ria…Sedang di belahan bumi lainnya, wanita dan anak-anak Palestina tak punya lagi air mata untuk diteteskan… Apalagi untuk tertawa…

***

Hatiku begitu tersayat-sayat…

Sebab kedua kaki ini hanya mampu melangkah dari Masjid Raya menuju Mandala…Ia tak mampu sampai ke bumi jihad Palestina berdiri tegak menyelamatkan Al Aqsa…

Sebab kepalan tangan ini hanya mampu membumbung ke angkasa menggemakan takbir pada-Nya…Ia tak mampu mengangkat senjata dan mengarahkannya ke musuh-musuh yang telah membuat para wanita dan anak Palestina begitu menderita…

Sebab suara lantang ini hanya mampu menggema melawan suara kendaraan di sepanjang jalan sana..Ia tak mampu berteriak seperti mujahid Palestina di hadapan tank-tank baja…

***

Wahai Allah…Pada hari ini kami sedang berbaris di depan jalan sebuah kota…Jumlah kami mungkin tak banyak… Namun ghirah kami ribuan kali lebih besar dari sekadar nyali para pengecut yang ingin merebut Al Aqsa…

Wahai Allah…Sampaikan doa dan salam jihad kami kepada mujahid/mujahidah Palestina…Turunkan bala tentara-Mu sebagaimana tentara perang Badar di bumi jihad Palestina..Himpunkan dan satukan ghirah kami dalam ruh-ruh mereka yang sedang berjuang di bumi jihad Palestina…

***

Maka saksikanlah oleh kalian…Wahai musuh-musuh Allah…Bahwa ghirah mujahid/mujahidah Palestina hari ini dan akan datang…Ribuan bahkan jutaan kali lebih dahsyat dari hari sebelumnya…Kekuatan mereka akan bertambah dan terus bertambah…Hingga kalian tak ‘kan mampu menghitung jumlahnya…Hingga dari setiap kesyahidan 1 mujahid/mujahidah akan muncul 1000 mujahid/mujahidah baru meneruskan perjuangan mereka…Hingga bumi pun bergetar menahan derap langkah mereka…

Ketahuilah wahai Israel La’natullah…Sebutir peluru yang menembus dada seorang mujahid/mujahidah…Selalu menjadi senyum kemenangan di wajahnya…

Sebab…Jihad adalah jalan juang kami…Dan syahid di jalan Allah adalah…Cita-cita kami tertinggi…

Perjuangan ini tak ‘kan pernah berhenti…

Sumber: http://mujahidah-farma.blogspot.com

Belajarlah, Nak!

Belajarlah, Nak
Tancapkan asa ke Sidratul Muntaha
Kepakkan sayap agar bisa terbang ke Antartika
Benam bodoh dalam buku-buku musuh ketololan

Bapak tak berharap kau jadi Rasulullah
Pintu itu tertutup sudah, tapi
Ambillah yang kamu mampu dari Kekasih Allah

Bapak tak harap kau jadi malaikat
Ruang dimensimu berbeda, tapi
Belajarlah darinya tentang kesetiaan

Bapak tak berharap kau menjadi Einstein
Masamu berbeda jauh, tapi
Sadarkah kau bahwa kau bisa lebih pintar
Sebab berbekal sama dari Yang Maha Kuasa
manfaatkan sempurna

(EWA)

Simfoni Penaku

Ananda Buah Hatiku Tercinta…

Segala rahmat dan kasih sayang hanya dapat di berikan oleh Sang Pencipta Alam, begitupun dengan perjuangan setiap kawan dalam mencari teman untuk melangkah bersama dalam merenda setiap tangga hanya dapat dirasakan karena izin dari Sang Maha Pencinta.
Tak kan ada kerpibadian yang lurus selain dari pada melihat, memahami dan mengaplikasikan dari sosokMuhammad sang mencintai ummatnya sampai akhir zaman, adalah kita sosok yang alpha dari ketidaktahuan darimana kita memulainya untuk memahami jejak perjalanan sang kekasih Allah dan selayaknya kekasih kita semua, yang mengharapkan ketenangan dari ancaman yang tiadak persembunyian-Nya "mizan-Nya".

Setiap diri adalah pembendaharaan benda bernyawa sebagai kekuatan dari Allah semata. Allah yang telah membentuk rupa manusia sebagai pembeda dengan makhluk hewani dan tumbuh-tumbuhan, adakah kesia-siaan dalam hidup ini???

Sungguh pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh setiap insan yang menjaga fitrah islam dalam dadanya, qolbu, selalu dipagarinya dengan tanaman-tanaman dzikir dan disiraminya dengan air kedamaian dan dihiasi dengan serpihan-serpihan emas Quranulkarim.

Adalah setiap diri memiliki kesempatan untuk memulai langkah baru diantara bayang-bayang hitam yang selalu membuatnya berlari dari masa depan, padahal disana ada padang rumput yang subur, lahan kehidupan apabila disemaikan benih gandum maka penuhlah lumbung-lumbung ketika panen. Sungguh sangat membuat iri makhluk-makhluk langit.

Lembayung, jingga dan semua warna ketika pelangi menampakan diri tiadak sekuat dengan kesempurnaan ciptaan-Nya di bumi, bumi yang setiap pagi matahari dapat mengalahkan sang gelap malam.

Selamat menjalani langkah-langkah baru dalam menggapai impian-impian dalam hidup, wahai anak-anakku…

Sejahteralah ananda sayang...
Mulai hari ini dan selamanya
Amin Ya Rabbal Alamien